Sabtu, 05 Desember 2020

Semangkuk Uang Receh

Oleh : Jetro Limbong

Kaki melangkah tertatih menyusuri basahnya jalan di sepanjang gang di depan penjaja sayuran. Tas gendong warna hijau krem ditenteng dengan gegap gempita sembari melirik kanan kiri hijaunya seikat kangkung. Badan renta meliuk seiring tangan kiri meraih kangkung sambil menatap segarnya sayur tersebut." berapa harganya mang ?", ujar wanita separuh baya kepada sosok pemuda penjual sayur. "dua ribu seikatnya, mau berapa ikat belinya ?", wanita tersebut mengeluarkan uang pecahan sepuluh ribu dan menyerahkan kepada penjual. "Ini bu kembalian empat ribu”.

              Sosok wanita berjaket biru lekas mengambil dan menaruh recehan uang kembalian ke loket kecil bergambar hello kitty. Urat tangan kiri dari sosok wanita tua tersebut memegang erat dan memastikan setiap pecahan seribu berjumlah empat masuk ke dompet mungil.

              Setelah semua barang yang dibeli telah diraih, ibu tersebut bergegas menghampiri sepeda motor datang menjemput yang tak lain anaknya. Ibu itu naik sembari tersenyum melihat anaknya menjemput dan berkata, " udah lama nunggu nak?". " baru nyampai bu, ayo hati-hati naiknya ya bu", ujar seorang pemuda berwajah oval dengan tinggi seratus enam puluh lima senti.

             Gas motor pun ditarik perlahan menuju pulang ke rumah dengan membawa berbagai barang untuk dijual di warung yang berdiri lima tahun sejak suami meninggalkan alam fana. Setibanya sampai di rumah, rasa senang tergambar dari senyuman melihat anak kedua menyambut sambil mengambil barang dipangkuan ibu." biar dede yang bawa barangnya bu", dengan sigap kedua tangan merebut barang belanjaan untuk dipajang di warung. 

             Ibu masuk ke rumah dan mencari letak sebuah mangkuk berwarna putih dengan gambar ayam jago. Dompet hello kitty dibuka seraya menggapai empat koin bertuliskan angka seribu dan langsung meletakan uang di mangkuk. Itulah hal pertama yang dilakukan sosok tangguh yang sehari-hari dipanggil ibu dede apabila setiap memiliki uang recehan saat pulang dari pasar. 

            Setengah dari mangkuk telah terisi uang receh dan diletakkan di atas televisi bertuliskan "dilarang mengambil uang ini".

Pemandangan mangkuk putih bergambar ayam jago sering menarik pembeli bertanya. " ibu dede buat apa simpan uang receh di mangkuk ?" Ibu dede menjawab, " itu agar mudah menyimpan uang receh". Kami empat bersaudara hingga kini masih belum tahu apa tujuan ibu selalu menyimpan uang recehan di sana. Selalu jawabannya," pada waktunya akan ibu beritahu, sabar ya nak". 

             Setiap mangkuk penuh, ibu langsung memasukkan uang receh ke dalam karung goni. Entah sudah berapa jumlah uang koin dalam karung kami bertiga pun tak tahu. Pada suatu malam, ibu mengumpulkan kami bertiga di ruang tamu sambil menikmati ayam bakar dan minuman hangat berwarna hitam dengan rasa jahe pekat.

            Hidangan nikmat nan gurih terasa dalam lidah penuh rasa syukur atas segala nikmat yang tak lain ibu kami masih tetap sehat. Apalah kami bertiga yang tak akan bisa menebus segala jasa ibu penuh dengan kasih sayang sepanjang hayat.

          Akhir jamuan dari bunda dilanjukan agar kita tak beranjak dari tempat duduk. “anak-anakku coba kalian duduk manis karena ibu akan mengatakan alasan utama mengapa ibu menyimpan uang receh di mangkuk dan menimbun di karung.

         Kami terdiam seraya menanti perihal selama ini yang menjadi pertanyaan kami bertiga. “ ibu akan menjelaskan mengapa selama ini ibu belum menjelaskan perihal tujuan uang receh yang disimpan di karung”.

“ perlu kalian tahu, ibu mengumpulkan uang dalam karung goni karena ibu saat nanti dijemput Tuhan, ibu ingin meninggalkan sesuatu yang berharga materi dan non-materi. Hatiku mendadak terkejut dan kedua bola mata ingin menumpakan air mata saat rangkaian kata ibu apabila Tuhan menjemput bunda.

          Ibu melanjutkan penjelasannya, “ saat nanti ibu tidak ada, ibu tidak mau kalian kekurangan secara materi, namun ibu juga ingin kalian belajar bahwa sesuatu bernilai kecil saat dikumpulkan menjadi penolong saat kekurangan materi. “ selain itu, kalian harus kerja keras dengan hati tulus dan hargai hasilnya dengan menabung walau seribu rupiah”. “ udah ngerti belum sekarang?”, tanya ibu. “ iya bu kami ngerti”.

          Aku melihat raut muka adik- adikku terdiam setelah mengetahui alasan ibu selama ini menyimpan uang receh dalam mangkuk warna putih bergambar ayam jago. Kami pun seketika memeluk ibu dan meminta maaf karena selama ini sering merepotkan dengam segala tindak tanduk dalam keseharian. Ya Tuhanku, lindungilah ibu kami dan rahmatilah dalam kehidupan dunia dan akhirat, Aamiiin.


Coretan hati ini kami persembahkan kepada Ibu.


Share:

Kepala SMPN 3 Rongga

Kepala SMPN 3 Rongga
Deni Budiman, S.Pd., M.M.Pd.

Semangkuk Uang Receh

Oleh : Jetro Limbong Kaki melangkah tertatih menyusuri basahnya jalan di sepanjang gang di depan penjaja sayuran. Tas gendong warna hijau kr...