Rabu, 15 Januari 2020

Selayang Pandang Siswa Berpantun

Sejuk hari begitu menggigit raga ini sehingga aku (hadinata) berkata “Pohon jati sejajar orang/ terperosok ke balai raya/ tekun belajar masa sekarang/ esok aku bisa bahagia”. Kaki ini melangkah seseorang di sudut seberang dan ku sapa “ Hai, bolehkah aku kenal dengan engkau?”, lalu dijawab (Reza) “ Jalan-jalan ke sumatera/ jangan lupa membeli ikan/ perkenalkan nama saya reza/ berasal dari kampung babakan”. Reza pun berkenalan dengan hadi, mereka ternyata satu sekolah. Mereka berangkat bersama ke sekolah pagi hari, saat masuk ke gerbang, mereka melihat rekannya dan bertanya “ sedang apa engkau duduk termenung?” tanya Reza, lalu sahara menjawab” dikerat di atas batubara/ dua-dua diikat menjadi satu/ kukirim surat pelipur lara/ semoga Ibu sehat selalu”. Aku lagi ingat Ibuku jawabnya.
Sekolah mulai ramai seiring banyaknya teman-teman kelas berdatangan namun di sudut taman siswa kelas 7 bernama Elgi tersenyum sambil berkata “ buah salak baru dipetik/ buah dukuh buah delima/ada banyak wanita cantik/ Cuma kamu aku cinta”. Mendengar sahara lagi sedih, kemudian nazila datang menghibur sambil berucap “hangat minuman dari lada/segar pula rasa selasihnya/rindu hati kepada bunda/ rindu akan kasih sayangnya/”. Mendengar perkataan nazila, olivia pun menyambung dengan berkata “ Para petani menanam padi/ saat di sawah melihat batu/ingatlah Allah setiap hari/ dengan sholat lima waktu/”. Di samping olivia ada candra yang juga mendengarkan seraya berkata “jalan-jalan ke kota jakarta/jangan lupa membeli rambutan/jika kamu ingin masuk surga/berbanyak lah membaca Alquran/”. 
Bel masuk kelas telah berbunyi dan Ahmad Firdaus lekas memanggil temannya di luar sembari berkata “ kucing anggora baru lahir/tapi sayangnya dimakan buaya/ini pantun yang terakhir/tepuk tangan untuk saya/”. Seketika itu juga rekan-rekan yang berada di luar masuk dan mengucapkan terima kasih telah diingatkan. Masuklah guru yang mengajar di jam pertama, guru tersebut adalah guru Bahasa Indonesia nan elok di pandang namun gagah untuk dikenang. Di Saat akan memulai pelajaran, salah satu siswa (Tifal) berkata “ ayam enak jika bakar/namun lebih mantap dijadikan pepesan/guru jangan hanyai pandai mengajar/namun harus menjadi teladan/”. Guru itu pun mengucurkan air dari kedua bola matanya teringat akan beratnya tugas sebagai guru, dalam hati ini berkata “ terima kasih siswa telah mengingatkan tugas kami sebagai guru”. 
Pelajaran pun di mulai dengan berdoa dan ucapan salam kepada semua siswa, namun sang Guru memerhatikan salah siswa ( Ripan) dan bertanya “ wahai siswa ku, kenapa engkau senyum tersipu bahagia?” dan dijawabnya, “ duduk di rumah sambil jualan/yang dijual motor antik/ini bukan sekedar gombalan/wajahmu memang cantik/” seketika itu pun ruang kelas riuh sambil bersorak mendengar pantun yang didendangkan. Disudut sebelah kanan kelas tampak andriansyah asyik berbincang dan segera guru menegur agar memerhatikan, lalu adriansyah berkata “ keluar kapal naik kapal/warna kuning warna merah/jadi anak jangan nakal/supaya guru tidak marah/”. Langsung di jawab sang Guru “ iyaa betuuulll”.
Guru pun memulai pelajaran dengan tak bosan mengingatkan bahwa sebagai siswa harus rajin belajar, tanpa diberikan aba-aba, Asep Juliana berkata “ duduk melamun di depan teras/sambil mendengarkan burung tekukur/tak mengapa belajar keras/siapa tahu esok jadi direktur/”. “Aaaaaamiiiiiiiiiiin”, jawab kawan-kawannya sekelas. Melani pun lekas menyambung perkataan rekannya, “pergi ke pasar membeli gitar/belinya di toko depan/giat-giatlah dalam belajar/ada manfaat di masa depan/”. Guru pun mempersilahkan siswa lain yang mempunyai pantun, berdiri lah Siti Holimah lalu berkata “jalan-jalan ke kota Siantar/hanya untuk membeli sukun/jika kamu ingin pintar/maka belajarlah dengan tekun/”. Tak mau kalah temannya bernama Ririn ingin juga berpantun, “tinggi badan amat semampai/petani pergi mengambil talas/rajin belajar pangkal pandai/semangat terus jangan malas/”. Lalu rekan-rekan yang duduk satu barisan berdiri pula tak mau kalah.  Di antaranya Yani mengatakan “ nenekku ahli meramu jamu/dibuatnya ramuan dari resep rahasia/janganlah kau bosan menuntut ilmu/agar hidup tetap berguna sampai tua/”.
“Pak, aku (Sumiati) juga punya pantun”, lalu dia berkata “ anak orang tanjung ampalu/senja hari pasang pelita/luka tangan oleh sembilu/luka hati karena kata/”. Seketika itu pun guru beranjak dari tempat duduknya seolah diingatkan bahwa kita harus menjaga lisan. Jawab guru itu pun “bagus”. Tak sampai dalam hitungan menit, sahra sabila berkata, “pinang muda dibelah dua/anak burung mati diranggah/dari muda sampai ke tua/ajaran baik jangan diubah/”. Pantun tersebut setelah diucapkan lalu disambung oleh Rina Azzahra dengan mengatakan,”pisang emas dibawa berlayar/masak sebiji di atas peti/hutang emas bolah dibayar/hutang budi dibawa mati/”. 
Melihat banyak siswa perempuan berpantun, guru pun bertanya kepada siswa laki-laki,” siapa dari siswa laki-laki yang siap berpantun?” jawab mereka “kami siap Pakk”. Lalu hadir Riki Pamungkas datang ke depan kelas sambil ,berkata,” beli baju beli celana/beri satu untuk tetangga/hiduplah dengan bijaksana/emosi dan nafsu mesti dijaga/”. Tak mau kalah, Widianto pun menyambung dengan berkata “ dua mei hari pendidikan/hari lahir ki Hajar Dewantara/jika orang tidak berpendidikan/seumur hidup bakal sengsara/”. Dengan kalemnya, Ryan mendatangi guru sambil berpantun,”mahkota raja diikat tali/dilempar batu ke dalam kali/tahta harta boleh kau cari/tapi ingat tak dibawa mati/”. Akhirnya sang guru ingin memberi tahu bahwa pelajaran akan segera berakhir, namun Kamal mengangkat tangan, “Pak ijinkan saya berpantun” lalu kamal berkata “ alangkah indah hati beriman/akhlak mulia tiada tara/alangkah indah banyak teman/ hidup bahagia banyak saudara/”. Tepuk tangan dari sang guru pun tak lupa diberikan kepada semua siswa  atas keberanian berpantun.  
Penulis,
Jetro Limbong & Siswa Kls 7

Share:

Kepala SMPN 3 Rongga

Kepala SMPN 3 Rongga
Deni Budiman, S.Pd., M.M.Pd.

Terbaru

3/recent-posts

Pengikut

Selayang Pandang Siswa Berpantun

Sejuk hari begitu menggigit raga ini sehingga aku (hadinata) berkata “Pohon jati sejajar orang/ terperosok ke balai raya/ tekun belajar mas...

Cari Blog Ini