Rabu, 11 Desember 2019

CITA-CIT(A) KU



Oleh : Jetro Limbong

Suasana malam terpecah saat adzan terdengar berkumandang, gegap gempita raga ini beranjak dari ranjang yang dipenuhi selimut dan bantal. Dalam pikirku, waktu shalat shubuh telah tiba, sejenak terhentak dikala kedua bola mata melihat arloji menunjukkan pukul tiga pagi. “ oh masih jam tiga pagi ya”, gumamku.

Gerak tubuh dan kedua kelopak mata terus bergerak seiring ingatan berucap bahwa diriku hari ini akan memulai sebuah pekerjaan yang sejak sepuluh tahun lalu engkau idamkan. Rasa syukur aku ucapkan karena bisa bangun sebelum ayam jago berkokok dan fajar terbit. Tubuh pun terasa ringan bangkit bergegas menuju tempat tas aku berada di atas almari yang kokoh berada di ujung sudut kamar.

Kedua jemari tangan bergerak sesuai hati dan pikiran yang berkecamuk mengambil sebuah tas yang berisikan peralatan sebuah komputer jinjing dan alat tulis menulis. “lengkap, siiplah”, ujarku dalam hati. Segera tas tersebut aku diamkan pada tempat yang mudah diingat.

Waktu menunjukkan pukul empat pagi dan panggilan Tuhan agar kita bangun bersegera memenuhi Panggilan-NYA. Langkah tubuh pun beralih ke tempat sebuah kran air mengalir untuk menyucikan diri agar terpenuhi syarat menunaikan shalat shubuh. Dalam tasbih dan khidmat aku meminta, “Ya Tuhanku Engkau lah Maha Pelindung, maka mudahkan lah langkahku dalam mengajarkan ilmu”. Sebuah doa yang aku panjatkan atas semua nikmat  tak terhingga atas jalan yang terbuka.

Rasa tenang menyelimuti hati tatkala usai tunaikan ibadah dua rakaat, namun gerak tubuh segera melangkahkan ke tempat membersihkan diri karena seiring waktu berjalan matahari akan menunjukkan jati dirinya. Tubuh terasa segar begitupun hati ini berkata “ nikmat sekali mandi pagi ini”, dan segera aku menutupi tubuh ini dengan beberapa helai kain yang berbentuk kemeja dan celana katun agar rasa dingin tidak segera merasuki.

Berjalannya waktu diiringi langkah jari jemari menggerakkan sebuah sendok dalam mengambil makanan karena rasa lapar telah menghinggapi usus duabelas jari. Rasa syukur atas lezatnya sarapan pagi semakin meningkatkan semangat diri ini untuk bergegas ke tempat tujuan. Kenikmatan kenyang dapat aku rasakan setelah seteguk air menyudahi sarapan pagi hari ini sambil bermunajat “ wahai yang Maha besar jadikanlah hamba-MU yang pandai bersyukur”.

Aku memiliki “kuda” bermesin motor berwarna hitam, sesuai warna favoritku yaitu hitam, konon katanya, apabila kita ingin melihat warna putih yang sesungguhnya dalam hati seseorang, lihatlah dahulu hitamnya warna yang melingkari warna putih tersebut. Mesin motor aku nyalakan agar mesin panas sehingga siap segera untuk ditumpangi ke tempat tujuan yang memerlukan waktu 40 menit menuju kesana. Rasa senang melingkupi hati ini karena akan segera menuju tempat seseorang yang telah menunggu aku.

Perlahan demi perlahan langkahku berjalan menyusuri jalan menanjak dengan berbagai kelokan diselimuti suasana pagi ceria dan dingin yang menusuk mata. Dalam perjalanan sesekali tangan ini bergetar kedinginan karena telah memasuki daerah sebelah utara di daerah Bandung bagian barat. Suasana dingin tambah menusuk raga ini saat tiba di sebuah pertigaan yang memang ujung tanjakan. Aku pun berbelok ke sebelah kanan tetap memegang erat tangan dalam mengendalikan motor bermesin dan tak lupa pandangan tetap waspada agar bisa sampai tujuan. 

Akhirnya tiba juga diri ini pada satu tempat sekolah menengah pertama yang memang tujuan utama akhir perjalanan ini di sebuah daerah Lembang. Empat puluh lima menit usai aku habiskan untuk memenuhi undangan dari seorang guru. Akhirnya aku masuk dan bertemu seseorang yang aku tuju. Kami berkenalan dan berbicara tidak lebih dari tiga puluh menit dan menghasilkan kesepakatan bahwa saya mendapatkan kepercayaan untuk menggantikan beliau sementara sebagai guru. 

Keputusan beliau telah membuat diri ini mendapatkan petir di siang bolong, jauh dari pembicaraan sebelumnya melalui media sosial. Namun kepercayaan ini segera aku jawab dengan rasa bahagia lewat lisan mengatakan “ kalau begitu saya akan berusaha menunaikan kepercayaan yang saya dapatkan” jawabku. Segera saat itu pun aku diberikan estafet untuk menggantikan beliau sebagai guru di salah satu sekolah swasta menengah pertama yang berada di daerah lembang.

Hari-hariku pun telah berubah karena dalam jangka waktu tiga hari beruntun aku sekarang menjadi pengajar. Suasana riang gembira dengan suka duka menjadi guru terasa sudah dan menjadi pengisi hidupku dalam delapan pekan terakhir ini. Tak terasa hari-hari begitu bahagia saaat bisa menyampaikan pengetahuan kepada generasi penerus kita. Suasana keakraban dengan rekan pengajar lain juga telah mewarnai dinamika kehidupan diri dan tanpa terasa diri ini telah terbentuk menjadi sosok contoh bagi siswanya.

Saat teringat selama sepuluh tahun lalu, diri ini meneteskan air mata saat itu aku bercita-cita menjadi guru namun posisi sebagai pengganti kepala keluarga mengharuskan aku tampil sebagai bapak dari adik-adikku. Kurela korbankan cita-citaku dengan banting tulang dengan segala jenis pekerjaan. Hari ini telah aku rasakan bagaimana menjadi sosok guru. Sebuah pekerjaan yang penuh kasih sayang kepada siswanya. Sebuah pengabdian dengan berharap melahirkan generasi yang lebih baik. Sebuah harapan akan kelak siswanya menjadi orang bermanfaat.

Dalam keseharian menjadi guru pengganti, disela-sela waktu bercengkrama dengan rekan pengajar lain, sering mereka bertanya mengapa bapak mau mengajar ke tempat jauh seperti ini. Dalam senyuman dan tatapan bahagia, diri ini pun menjelaskan kepada rekan-rekan dan aku pun menjawab, “ dalam keindahan hidup ada surga yang bisa kita nikmati walau raga ini telah musnah, yaitu kenikmatan saat mengajar siswa yang entah suatu saat nanti mereka berhasil dalam hidupnya dan mendoakan kita sebagai gurunya”. 

Diskusi pun berlanjut dengan sesama rekan pengajar, narasi-narasi pendidikan dan fakta sebagai guru bermunculan. Aku hanya mendengarkan dan sesekali berujar, “ saya  berangkat dari bandung ke lembang untuk mengajar, saya akan menjaga bulatnya hati dalam mengajar, tak lain ingin mengamalkan ilmu walau sedikit, tak berharap imbalan apapun, serta biarkanlah Tuhan yang mengatur dan mencukupi kebutuhan kita. ”. Hari ini saat usia telah menginjak antara masa muda dan tua, satu yang menjadi cita-citaku, yaitu “ wahai Tuhanku, semoga di akhir hidupku, aku sedang belajar dan mengajarkan ilmu”.

Hari ini genap delapan pekan saya menjadi guru pengganti, rasa bahagia selalu menyertai hidupku dan dibalik semua kesukaran menjadi guru telah menjadi suatu harapan, semoga kelak nanti anak-anak yang pernah aku didik menjadi orang yang bermanfaat, Amiin.

Penulis
Guru Bahasa Indonesia

Share:

Kepala SMPN 3 Rongga

Kepala SMPN 3 Rongga
Deni Budiman, S.Pd., M.M.Pd.

Selayang Pandang Siswa Berpantun

Sejuk hari begitu menggigit raga ini sehingga aku (hadinata) berkata “Pohon jati sejajar orang/ terperosok ke balai raya/ tekun belajar mas...