Senin, 18 November 2019

Tirong Oh Tirong






TIRONG, OH TIRONG
Oleh: Deni Budiman
Kepala SMPN 3 Rongga

Entah ini cerita yang bahagia atau menyedihkan.....

Ketika pertamakali perjalanan menuju tempat kerjaku yang baru yaitu di SMPN 3 Rongga alias TIRONG memakan waktu tiga setengah sampai empat jam baru sampai di lokasi, ternyata jalan yang aku lalui ketika mau sampai di lokasi begitu terjal dan belum beraspal sekira dua kilo meter menuju tempat kerja ku sesuai dengan informasi yang ku dapatkan dari temanku yang terdahulu yang mejadi kepala sekolah di sini, dibuktikan dengan odometer tunggangan ku yang aku reset ke angka nol ketika menginjak jalan yang tak beraspal dan terjal tersebut sampai habis dan odometer tunggangan ku menunjukkan angka 2000,00.

Ketika sampai di lokasi, apa yg aku lihat ternyata sangat jauh berbeda dengan tempat kerja ku dulu ketika aku masih mengajar, rumah dinas yang jauh dari pemukiman warga yang kurang terurus dan sekarang dipakai gudang yang tidak mungkin aku tempati, ruangan kelas yang terpotong oleh jalan raya malela yang keadaanya sudah pada rusak baik pada plafon, lantai bahkan dindingnya juga banyak yang rusak, apalagi wc siswa yang sudah tidak terpakai menambah kesan kumuh karena sudah lama tidak ada air yang mengalir ke wc tersebut. 

Dalam perjalanan menuju tempat kerja ku yang memakan waktu cukup lama maka untuk menghemat waktu, tenaga dan bahan bakar maka aku putuskan untuk tinggal di tempat kerjaku menjadi DOKTOR alias mondok di kantor hehehe....., tapi aku kebingungan dengan kondisi rumah dinas yang tidak mungkin aku tempati dengan alasan yang sudah aku kemukakan tadi di atas, untungnya caraka di sekolah abah Barna namanya menawarkan diri untuk tinggal bersamanya tapi dengan keadaan seadanya kata abah, karena kebetulan abah juga sendirian di rumahnya tersebut, kusambut tawaran tersebut dengan senang hati hitung hitung ada yang menemani ketika aku menjadi DOKTOR.

Sumber Daya Manusia ketika kulihat hanya beberapa orang saja yang sudah menjadi PNS/ASN yaitu aku, wakasek kurikulum, bendahara, kaur TU dan seorang guru GGD (Guru Garis Depan) yang ditempatkan di sekolah ku, namun seiring dengan berjalannya waktu pemerintah daerah mengirimkan tiga orang guru dimana ketiga PNS tersebut terdiri dua orang PNS baru, dan satu orang dari K2 atau kategori dua.

Dua bulan kemudian dijalan tersebut sudah terhampar batu kerikil, aku pikir pasti tidak lama lagi akan dihotmix, dan ternyata benar dugaan ku, ketika susatu saat aku mau pulang jalan yang biasa ku lalui tidak bisa lagi aku injak dengan tunggangan ku, dengan terpaksa aku kembali ke sekolah meminta bantuan ditunjukkan jalan lain yang bisa dilalui, dengan bantuan abah, aku dipandu menuju jalan yang harus aku lalui dan ternyata jalan tersebut lebihterjal dari jalan yang biasa ku lalui namanya jalan Cisuren, jalannya kecil cukup untuk satu mobil, berkelak kelok beralaskan batu besar dan kecil yang berserakan tidak beraturan dan sesekali menginjak tanah merah yang kalau musim hujan sudah pasti sangat licin. Sekira satu bulan lebih aku pulang pergi melalui jalan Cisuren ini, Sekarang jalan yang biasa kulalui sudah hitam beraspal, alhamdulillah...!!! dan yang membuatku merasa sedikit terhibur yaitu lokasi tempat kerjaku dekat dengan detinasi wisata yaitu curug Malela, yang sampai saat cerita ini ditulis aku sudah ke empat kalinya berkunjung ke sana dan tidak ada bosannya.

Di sela sela kegiatan ku di sekolah, aku sering bercengkrama bersenda gurau dengan staf dan guru guru di ruangan guru, aku iseng bertanya kepada semua yang ada di ruangan guru, begini pertanyaan ku “kira kira pengalaman apa yang menarik di sekolah ini?”, bendahara sekolah yang bernama Yayan menjawab pertanyaan ku, “ada pak, ketika siswa mengumpulkan lagi raport yang sudah ditanda tangani oleh orang tua, ternyata ada salah seorang siswa yang raportnya di bubuhi stempel oleh orang tuanya,” lalu aku kembali bertanya, “stempel apa yang dibubuhkan di raportnya ?”, lalu pak Yayan menjawab, “stempel RT pak”, kontan saja semua yang ada di ruangan itu tertawa terpingkal pingkal termasuk aku juga, hahahaha..., aku bertanya lagi dengan pertanyaan yang hampir sama, “adalagi ga cerita yang menarik dan lucu?”, lalu staf kurikulum yang bernama Yusup Kurniawan menimpali pertanyaan ku tadi, “ada Pak, ketika siswa disuruh mengumpulkan biodata yang sudah dibagikan, salah satu pertanyaan yang harus diisi yaitu No telepon/HP, bukannya diisi oleh nomor hand phone nya tapi malah diisi merk HP nya yaitu...Cross...”, kembali kami tertawa terpingkal pingkal bersama sama.

Seiring dengan berjalannya waktu dan perjalanan Bandung-Rongga aku selalu berfikir bagaimana caranya membangun SDM yang ada di sekolah ku saat ini, kebetulan rumah ku di Bandung dekat dengan rumah pemilik majalah terbitan Propinsi Jawabarat yaitu majalah GUNEMAN, nama pemilik rumah tersebut adalah Pak Oesep Kurniadi yang biasa dipanggil “kang Oz”, dan ketika aku berada di Bandung selalu kusempatkan untuk berkunjung kerumahnya dan berdiskusi, awalnya kami berdiskusi tentang curug Malela yang dijuluki miniatur air terjun Niagara yang terkenal di dunia, sehingga curug Malela membuat orang penasaran untuk mengunjunginya termasuk kang Oz juga penasaran, bak gayung bersambut ku utarakan maksud dan tujuanku untuk membangun SDM yang ada di sekolah yaitu aku ingin sekali mengadakan pelatihan menulis bagi guru dan siswa dalam menggiatkan program Gerakan Literasi Sekolah supaya tidak hanya membaca saja dalam program tersebut tetapi bisa juga menulis dan aku pikir siapa tau suatu saat nanti penulis terkenal berasal dari daerah Rongga, Aamiin.

Dan kang Oz pun menyanggupinya untuk mengadakan pelatihan di SMPN 3 Rongga dengan satu syarat, diikuti dengan sungguh sunguh oleh peserta dan menghasilkan produk yaitu buku hasil pelatihan menulis dan .... “tolong diantar ke curug Malela”, kata beliau, akupun menyanggupinya. Selepas pelatihan menulis, kami bertiga yaitu aku, kang Oz dan pak Yusup berangkat ke curug Malela dengan menaiki sepeda motor sampai ke bale, dari sana kami bertiga berjalan kaki menelusuri jalan setapak yang sebenarnya bisa dilalui oleh motor tetapi sangat ngeri kelihatannya bagi kami yang tidak terbiasa naik motor dengan jalan seperti itu, kang Oz tidak henti hentinya merekam moment moment yang sangat indah selama perjalanan baik pergi maupun pulangnya dan aku pikir hasil rekamannya akan dijadikan cerita pula oleh kang Oz. Dan kang Oz pun berterimakasih sudah bisa sampai ke Curug Malela yang sudah sejak lama beliau sangat ingin mengunjunginya, aku pun berterimakasih kepada kang Oz yang sudah sudi memberikan pelatihan bagi guru dan siswa di SMPN 3 Rongga, disinilah munculnya simbiosis Mutualisme.

Akhirnya dengan kondisi apapun sekolah ku yang terletak di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Cianjur yang jauh dari perkotaan, dilihat dari segi sarana dan prasarana terutama bangunan dan meubeulair yang kurang cukup memadai, tetapi kekeluargaan yang harmonis diantara civitas akademika serta semangat rekan rekan untuk memajukan dan membangun Sumber Daya Manusia tidak kalah dengan sekolah yang ada di kota, itulah yang aku cintai dari SMPN 3 Rongga.


Share:

Kepala SMPN 3 Rongga

Kepala SMPN 3 Rongga
Deni Budiman, S.Pd., M.M.Pd.

Terbaru

3/recent-posts

Pengikut

Selayang Pandang Siswa Berpantun

Sejuk hari begitu menggigit raga ini sehingga aku (hadinata) berkata “Pohon jati sejajar orang/ terperosok ke balai raya/ tekun belajar mas...

Cari Blog Ini