SMP Negeri 3 Rongga Kabupaten Bandung Barat

Curug Malela sebagai salah satu Ikon Bandung Barat

SMP Negeri 3 Rongga Kabupaten Bandung Barat

Suasana malam di SMPN 3 Rongga

SMP Negeri 3 Rongga Kabupaten Bandung Barat

Siswa dan Dewan Guru dalam acara pelatihan menulis bekerja sama dengan Majalah Guneman

SMP Negeri 3 Rongga Kabupaten Bandung Barat

Siswa SMP Negeri 3 Rongga dalam kegiatan memperingati HUT RI ke-73

SMP Negeri 3 Rongga Kabupaten Bandung Barat

Kegiatan Sanlat SMP Negeri 3 Rongga 1442 H

Selasa, 10 September 2019

Cerpen



Pesan Eyang Taji Malela
Karya: Yayan
Guru SMPN 3 Rongga
Hari minggu adalah hari yang menyenangkan bagi setiap anak, karena mereka bisa bermain sepuasnya setelah enam hari berkutat dengan buku dan pelajaran, tidak terkecuali bagi empat sekawan Amir, Mahmud, Siti dan Jamilah. Keempatnya merupakan siswa SMPN 3 Rongga. Walaupun rumah mereka berjauhan, tetapi persahabatan mereka begitu erat. Tak jarang mereka melakukan kegiatan bersama di luar kegiatan sekolah.
“Mir, hari Minggu besok kita main ke curug Malela yuk! Biasa pake sepeda.” Mahmud memulai pembicaraan.
 “OK, tapi ajak yang lain dong! biar rame.” Amir menjawab dengan semangat.
“Eh itu Siti dan Milah lagi ngobrol di warung Si Bibi, Kita kesana yuk!.
Mereka pun bergegas menuju warung Si Bibi yang letaknya di belakang sekolah.
“Amir, Mahmud kalian ke sini juga?” Sahut Jamilah yang lagi asik makan bakwan kesukaannya.
“Iya, tadi kita lagi ngobrol di dekat pohon kersen, kelihatan ada kamu dan Siti di sini, Jadi kesini deh.” Jawab Mahmud sambil melihat bakwan di etalase dagangan Si Bibi.
“Eh, Mil, Sit, hari minggu kalian ada acara gak?” Tanya Amir begitu serius.
“Enggak, Aku gak ada acara.” Siti Menjawab sambil mulutnya terus mengunyah.
“Kamu gimana, Mil?” Tanya Amir sambil melirik Jamilah.
“Lihat besok aja. Kemarin bapak berencana ngajak aku dan ke Cimahi nengok saudara, tapi lihat besok aja. Kalau gak jadi Aku Ikut Kalian ya,!”
“Oh gitu? Ikut kita aja dong, Gak ada Kamu gak seru.” Sahut Siti dengan nada memelas.
“Ya, lihat besok aja lah, Aku juga gak enak kan sama Bapak kalau gak ikut. Kalian berdoa aja supaya nengok saudaranya diundur. Besok pagi kalian ngumpul di rumah Aku aja dulu.”
“Iya deh kita kumpul di rumah Milah aja, jam tujuh pagi. Awas jangang sampai telat.” Timpal Mahmud yang dari tadi serius mendengarkan.
“Ok.” Mereka serempak.
Hari masih diselimuti kabut,  Amir, Mahmud, Siti sudah mengemas keperluan yang akan dibawa, tidak lupa mereka pun membawa minuman dan makanan untuk nanti disantap bersama.
Tepat pukul tujuh, mereka sudah berkumpul di rumah Jamilah yang letaknya berada di pintu masuk Curug Malela.
“Wah kalian udah pada siap ya? Kebetulan aku juga gak jadi nengok saudaranya, diundur ke minggu depan. Tunggu aku mau mandi dulu” Sambut Jamilah.
Setelah semuanya siap, mereka berempat memacu sepeda menuju Curug Malela. Senda gurau menghiasi perjalanan mereka.
Sesampainya di curug, mereka tak lupa menitipkan sepeda di salah satu kios yang  ada di parkiran curug. Dengan berjalan kaki, mereka pun bergegas menuju lokasi air terjun. Sejuknya udara yang diiringi gemuruh air dan kicauan burung menyambut kedatangan mereka.
Di lokasi air terjun yang masih sepi pengunjung mereka bermain air sepuasnya, sampai pakaian mereka basah kuyup.
Ketika sedang asyik bermain, mereka merasakan hal yang begitu aneh. Tiba-tiba langit mulai gelap tertutup awan, semakin lama makin gelap. Bumi terasa bergetar. terdengar suara yang sangat keras. Bummmm…. Mereka mulai melayang seolah-olah terbawa hembusan angin dan masuk black hole.  Mereka berteriak ketakutan, tapi tidak ada yang menjawab.
Langit mulai bercahaya, matahari pun mulai bersinar kembali, keadaan mulai normal kembali, namun anehnya mereka berada di tempat yang berbeda. Tempat tersebut sangatlah asing bagi mereka. Belum pernah seorang pun yang pernah menginjakkan kaki ke tempat tersebut.
“Kita berada di mana?” Tanya Siti yang mukanya pucat pasi.
Belum juga teman-teman yang lain menjawab, tiba tiba terdengar suara yang entah dari mana asalnya.
“Wahai anak muda! ikutilah jalan ke sebelah utara, kalian akan bertemu dengan seorang tua yang akan menunjukkan kalian jalan pulang.”
“Kamu siapa?” Teriak Amir sambil ketakutan. Tetapi tak ada yang menjawab.
“Terus gimana kita sekarang?” Tanya Jamilaih sambil melirik ke teman-temannya.
“Kita ikuti saja petunjuk suara tadi” Sahut Mahmud.
Akhirnya keempat anak tersebut berjalan ke sebelah utara. Jalan setapak yang sebelah kanan dan kirinya rimbun dengan semak belukar. Setelah sekian lama berjalan, dari kejauhan kelihatan ada sebuah gubuk tua. Lalu mereka menuju ke sana.
Sesampainya di gubuk itu, mereka sangat kaget karena ada suara dari dalam gubuk.
“Wahai cucu-cucuku, silahkan kalian masuk. Aku sudah menunggu kalian dari tadi.”
Suara itu nampak jelas keluar dari dalam gubuk. Mereka sangat kaget bercampur takut. Jamilah dan Siti pun memegang tangan Amir dan Mahmud.
“Kalian tenang! Ya sudah kita masuk saja.” Amir menenangkan kawan-kawannya.
Dengan hati-hati Amir membukakan pintu gubuk sambil mengucapkan salam. Sementara teman-temannya masih memegang tangan Amir.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum Salam. Silahkan kalian duduk.” Jawab sosok yang berada di dalam gubuk.
Mereka masuk ke dalam gubuk dan didapati sesosok kakek tua renta yang berpakaian serba putih duduk membelakanginya.
“Kalian jangan takut. Aku bukanlah hantu.” Si Kakek berbicara lagi sambil membalikan badan.
“I..Iya kek.” Jawab Amir terbata-bata.
“Hai Anak muda kalian tau sekarang ada di mana?” Tanya si kakek.
“Ti...Tidak Kek, Justru kami bingung, kami berada di mana dan Kakek ini Siapa?” Mahmud memberanikan diri menjawab.
“Hehehe… Sebetulnya kalian masih tetap di Curug Malela, namun ini tahun 1800.” Jawab si kakek.
“Tahun 1800? Lalu kakek ini siapa?” Amir menyela pembicaraan.
“Iya Ini tahun 1800, dan kakek adalah Taji Malela. Nanti tanyakan saja ke orang tuamu siapa kakek ini.”
“Sengaja Kakek mengundang kalian ke sini karena ada amanat yang harus Kakek sampaikan kepada kalian. Kakek tau bahwa kalianlah pewaris Curug ini.” Sambung Sang Kakek.
“Begini cucu-cucuku! Kakek menitipkan Curug ini pada kalian untuk dijaga baik-baik, karena ini adalah anugerah Tuhan yang tak terhingga buat kalian di masa sekarang dan masa-masa yang akan datang.”
“Lalu kami harus menjaga bagaimana Kek? Kami hanya anak-anak kecil yang tak tau apa-apa.” Siti memotong pembicaraan.
“Hehehe… “ Sang Kakek tersenyum.
“Kakek akan mewaisatkan tiga hal bagi kalian. Pertama, jagalah hati kalian apabila datang ke Curug ini. Jauhkan sikap sombong dari dalam hati. Kedua, jaga juga ucapan kalian. Janganlah berkata kotor dan pongah. Ketiga, jaga perbuatan kalian. Janganlah kalian berperilaku membuat kerusakan di kawasan Curug ini seperti membuang sampah sembarangan dan menebang pepohonan, karena itu semua merupakan nyawa dari curug ini. Kalian paham?”
“Iya Kek, kami mengerti.”Mereka berempat serempak menjawab.
“Iya Kek kami berjanji akan menjaga Curug ini sesuai wasiat Kakek” Mahmud menambahkan.
“Baiklah kalau sudah paham. Nah sekarang Kakek akan mengembalikan kalian ke dunia kalian. Pejamkan mata kalian, kalian jangan membuka mata sebelum terdengar gemuruh air.”
Semua anak memejamkan mata. Tak ada yang berani membuka mata.
Tiba-tiba terasa oleh keempat anak tersebut seolah-olah tubuh mereka melayang beberapa saat, Sampai akhirnya terdengar gemuruh air terjun. Mereka pun membuka mata. Mereka pun sudah berada di atas curug. Di bawah terlihat sudah banyak pengunjung.
Di tempat terakhir mereka bermain air, terlihat banyak orang yang memanggil nama Mereka.
“Amir!, Mahmud!, Jamilah!, Siti!” Sahut salah seorang.
“Tadi mereka terlihat bermain di sini. Jangan-jangan terbawa arus sungai. Kita Cari Aja ke bawah!” Sahut seseorang yang memakai rompi orange.
Rupanya semua orang sedang mencari mereka yang disangka hanyut terbawa arus sungai.
“Wah mereka mencari kita Mir!” Sahut Mahmud.
“Iya, Hai… Kami di sini.” Teriak Jamilah
Semua orang menoleh ke bagian atas Curug. dan melihat keempat orang anak sedang berdiri di di bibir Air Terjun.
“Wah merek di atas.” Sahut seseorang.
“Alhamdulillah, mereka selamat” Ucap Pak Mamat, Ayah Mahmud.
Lalu mereka bergegas menuju ke atas Curug dengan melewati jalan setapak. Sesampainya di atas, Pak Mamat langsung memeluk Mahmud.
“Syukurlah Mud kamu selamat, Bapak dari tadi mencari kalian karena ada kabar kalian terseret arus Air.”
Lalu mereka berempat menceritakan apa yang telah dialami. Mereka juga menyampaikan pesan yang disampaikan kakek tua yang mengaku Taji Malela. Sambil bengong mereka berucap
“Betul itu adalah Eyang Taji Malela”.
Share:

Sejarah Singkat SMPN 3 Rongga

SMP NEGERI 3 RONGGA


SMP Negeri 3 Rongga berada di kawasan pegunungan yang tepatnya di Jl. Malela No. 02 Desa Cicadas Kecamatan Rongga Kabupaten Bandung Barat. Sekolah yang berdiri sejak tahun 2007 ini berada di pintu masuk Curug Malela yang merupakan salah-satu destinasi wisata yang berada di Kabupaten Bandung Barat.

SMP Negeri 3 Rongga berdiri tidak terlepas dari keberadaan SD Negeri Cicadas. Dulu, SD ini menyelenggarakan sekolah SMP terbuka yang bernaung ke SMPN 1 Gununghalu, Sejak tahun 2007, didirikanlah sekolah yang bernama SMP Terbuka Cicadas Rongga. Pada tahun 2015 SMP Terbuka Cicadas berubah nama menjadi SMP Negeri 3 Rongga sampai sekarang.

Sejak awal berdiri sampai sekarang, SMP Negeri 3 Rongga mengalami pergantian kepemimpinan. Pada tahun 2007 sampai tahun 2009 sekolah ini dipimpin oleh Bapak Amid Setiawan yang merupakan Kepala SD Negeri Cicadas. Estapet kepemimpinan pun diserahkan kepada Bapak Tono Suhartono pada tahun 2008. Bapak Tono Suhartono memimpin sekolah ini sampai tahun 2010 dan digantikan oleh Abdul Hamid Daud (alm) sampai tahun tahun 2012. Pada tahun 2012 digantikan oleh Bapak Asep Dadang Solihin (alm). Kemudian pada tahun 2013 dijabat oleh Bapak Aan Bambang Setiadi selama dua tahun. Pada tahun 2015 tambuk kepemimpinan digantikan oleh Bapak Jaja sampai tahun 2018. Dari tahun 2018 sampai sekarang Pucuk pimpinan dipegang oleh Bapak Deni Budiman.

Pada awal mula berdiri, Sekolah ini tidak memiliki guru definitif. Semua guru merupakan guru honor. Baru pada tahun 2015 sekolah ini kedatangan dua orang guru berstatus PNS yang merupakan putra daerah. Mereka adalah Bapak R. Yudi Hartono yang mengajar mata pelajaran PJOK dan Bapak Yayan yang mengajar Bahasa Indonesia. Kemudian pada tahun 2019, SMP ini mendapat jatah guru PNS sebanyak 3 orang yang merupakan guru yang diangkat dari katagori umum dan katagori dua. Mereka adalah Bapak Asep Ismail mengampu mata pelajaran PAI, Ibu Intan Setyaningrum mengampu mata pelajaran IPS, dan Ibu Syifa Qolbiyatul Layinah mengampu mata pelajaran IPA.
Share:

Kepala SMPN 3 Rongga

Kepala SMPN 3 Rongga
Deni Budiman, S.Pd., M.M.Pd.

Terbaru

3/recent-posts

Cerpen

Pesan Eyang Taji Malela Karya: Yayan Guru SMPN 3 Rongga Hari minggu adalah hari yang menyenangkan bagi setiap anak, karena mere...

Cari Blog Ini